Saturday, March 12, 2016

Terimakasih Cinta

Terimakasih Cinta
Oleh: Rima Nur Rahmawati

Cinta, kata yang sering diagung-agungkan oleh para remaja umur belasan hingga dua puluhan.
Cinta, kata yang sering menjadi asal muasal terjadinya fitnah.
Cinta, satu kata yang mengandung makna ratusan, bahkan ribuan arti yang berbeda.
Cinta, satu kata yang dapat mendekatkan hati yang sebelumnya terpaut jarak.
.
.
Aku mengenalnya sekitar tiga tahun yang lalu, saat pertama kali menginjakkan kaki di Kota Pelajar ini.
Dia yang mengajarkanku makna cinta sesungguhnya.
Mengajarkan pada sosok yang sebelumnya belum menjamah apa itu cinta.

Wednesday, March 2, 2016

Lari (part 1)

Lari (part 1)
Oleh: Rima Nur Rahmawati

Malam yang tak begitu baik.
Oh bukan, aku salah. Malam ini tetap baik, hanya saja suasana hatiku yang sedang tidak baik.
Malam Yogyakarta yang selalu romantis. 
Kupandangi pasangan sejoli yang dari tadi bercengkrama, dibalut dengan polesan tawa yang tak jarang suara terpingkal-pingkal diantara keduanya, jatuh berlarian bersama hembusan angin yang cukup kencang.

Sunday, February 28, 2016

Selamat Tinggal

Selamat Tinggal
Oleh: Rima Nur Rahmawati

Pagi yang seharusnya indah,
Pagi yang seharusnya disambut dengan senyum ceria.

Hmm, selamat pagi dunia. Have a nice day J , gerutuku pagi ini masih dengan nuansa mata yang sembab.

Jam masih menunjukkan pukul 3.00 dini hari, belum ada suara ayam yang berkokok satu ekorpun.
Aku berjalan menyisiri lorong rumah yang masih gelap gulita, sengaja tak ada lampu yang kunyalakan seperjalananku menuju belakang rumah.
Sambil duduk di anak tangga belakang rumah, ku sruput teh hangat yang tak begitu manis. 
Mungkin bisa dibilang sedikit hambar. Oh bukan, tak lagi sedikit hambar, tapi memang hambar dan pahit. Tak ada sebutir gulapun yang aku taburkan di gelasku. Aku hanya ingin merasakan yang seharusnya dirasakan, bukan dibuat-buat. Daun teh yang sejatinya pahit dan tak manis, tidak seharusnya dibuat manis dan dipaksa untuk menjadi manis.


Saturday, February 27, 2016

Dia (part 2)

Penelitian itu sudah usai. Pertemuan rutinku dengan sosok gagah itupun telah usai pula.
Sambil menata koper mungil, tiba-tiba hapeku berbunyi.

Kakak di depan, SMS dari nomer tak dikenal masuk ke dalam inbox ku.


Saturday, February 20, 2016

Tentang Hujan

Ini tentang hujan.
Sudah lama aku tak mencium baumu di pagi hari, sekarang aku dapat mencium baumu kembali.
Sudah lama aku tak merasakan butiran air itu menyapu mukaku, membasuh lenganku, kini aku dapat merasakannya kembali.

Wednesday, November 18, 2015

Dia (part 1)

Denta, begitu aku mengenalnya. tak begitu lama kita saling mengenal, mungkin hanya sekitar 3 bulan terakhir ini. Semua bermula pada tragedi penelitian dosen yang secara tidak sengaja mempertemukan kami.

Denta, sosok yang kata teman-teman cukup tersohor, tapi sayang aku belum mengetahuinya sebelum kejadian di Laboratorium Fisiologi kala itu.


Sunday, August 23, 2015

Saya Menyebutnya, Cinta :)

pagi itu, ketika menginjakkan kaki di tanah air, ingin rasanya saya berteriak. berteriak dengan lantang bahwa saya bangga berada di negara ini. saya bangga menjadi bongkahan warga di sini, di Indonesia yang senantiasa kurindukan beberapa hari yang lalu.
pagi itu, dengan dijemput keluarga, saya memasuki mobil yang sesak dengan orang-orang terkasih, dan pastinya barang bawaanku yang tak sedikit pula.
setelah meninggalkan tanah air selama kurang lebih 10 hari, kini saya benar-benar merasakan banyak perubahan. yang pastinya, di dalam dada ini, lebih terasa cinta kepada tanah air. ya, rasa cinta itu semakin menjadi-jadi.
***
(1) saya duduk bersama delegasi dari Indonesia lainnya, di tribun yang luar biasa besarnya, saya dapat melihat dengan jelas muka-muka peserta lainnya dari berbagai negara. semua membaur menjadi satu di ruangan yang sangaaatttt besar. gemericik suara dari berbagai bahasa menjadi atmosfer tersendiri bagiku.
entah, walau ini bukan yang pertama, tapi saya selalu merasa getaran yang berbeda setiap kali merasakan atmosfer ini. ya, inilah atmosfer perjuangan. perjuangan tak harus mengacungkan sebuah pedang bukan? inilah caraku untuk membuktikan rasa cintaku dan terimakasihku pada bangsaku, Indonesia.

Thursday, July 30, 2015

Siapa?

Siapa?

Siang itu, aku dapat melihat semburat wajahnya ditengah kerumunan peserta seminar. Dibalut kemeja biru dan celana panjang berwarna hitam, serta tak lupa kacamata yang membuatnya nampak lebih berpengetahuan, dia mengikuti seminar yang diadakan oleh salah satu organisasiku. Dan aku tentunya sebagai salah satu panitianya. Sebenarnya tak ada yang istimewa bagiku. Aku dapat melihat semburat itu karena aku adalah panitia acara yang bertugas untuk memastikan peserta mengikuti jalannya seminar dengan baik, oleh karena itu tentunya aku dapat mengerti bahwa dia mengikuti seminar itu. Tak lebih.
***

Tuesday, May 5, 2015

kenalkan pada ayah

Siapa laki laki yang memintamu dari Ayah Nak?


Apa kabarmu disana nak?

Dikota yang berjarak dua jam perjalanan dari sini, apa kau masih mengingat orang tua renta ini? Yang setiap saat tak henti mendoakan segala yang terbaik untukmu.


Wednesday, April 29, 2015

Keseimbangan Status Gizi Lansia

KESEIMBANGAN STATUS GIZI LANSIA
DITINJAU DARI FAKTOR EKONOMI

A.    Definisi Status Gizi
Almatsier (2003) menjelaskan bahwa status gizi merupakan keadaan tubuh dimana ia merupakan hasil akibat dari penggunaan zat gizi, diantaranya makanan. Status gizi ini dapat diklasifikasikan menjadi 3 golongan, yakni gizi kurang, sedang, dan berlebih.

B.     Keseimbangan Status Gizi Lansia
Menjaga keseimbangan status gizi bagi setiap orang itu sangat penting, termasuk seorang lansia. Makanan yang akan dikonsumsi pun juga sebelumnya harus dipilah terlebih dahulu yang terbaik. Karena asupan makanan inilah yang akan memberikan suplai gizi yang dibutuhkan untuk 3 fungsi normal tubuh, yaitu memberikan energi, pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh, serta untuk mengatur proses tubuh (Almatsier, 2003).

Tabel 1. Zat-zat Gizi Esensial yang Dibutuhkan oleh Tubuh



Karbohidrat
Mineral
Vitamin
Glukosa
Kalsium
A
Serat
Fosfor
D
Natrium
E
Kalium
K
Lemak
Sulfur
Tiamin
Omega 6
Klor
Riboflavin
Omega 3
Magnesium
Niasin
Zat Besi
Biotin
Selenium
Folat
Protein
Seng
Piridoksin
Leusin
Mangan
Kobalamin
Isoleusin
Tembaga
Asam Pentotenat
Lisin
Kobalt
C
Triptofan
Iodium
Metionin
Krom
Fenilalanin
Fluor
Treonin
Timah
Air
Valin
Nikel
Histidin
Silikon, arsen, boron
Nitrogen Non Esensial
Vanadium, molibden

Sumber: Almatsier, 2003

Natrium merupakan salah satu jenis mineral yang dibutuhkan lansia pada jumlah yang sedikit. Tetapi walaupun sedikit, natrium merupakan komponen untuk dapat menyeimbangkan fungsi tubuh lansia dengan baik (Nutr, 2003).
Untuk mencapai keseimbangan status gizi, maka seorang lansia Indonesia harus memenuhi angka kecukupan gizi sebagai berikut:

Tabel 2. Angka Kecukupan Gizi pada Lansia >65 tahun
Kategori
Pria
Wanita
Berat Badan (kg)
62
55
Tinggi Badan (cm)
165
156
Energi (kkal)
2050
1600
Protein (g)
60
50
Vit. A (RE)
600
500
Vit. D (mcg)
15
15
Vit. E (mg)
15
15
Vit. K (mcg)
65
55
Tiamin (mg)
1
1
Riboflavin (mg)
1,3
1,1
Niasin (mg)
16
14
Asam Folat (mcg)
400
400
Piridoksin (mg)
1,3
1,7
Vit. B12 (mcg)
2,4
2,4
Vit. C (mg)
90
75
Kalsium (mg)
1000
1000
Fosfor (mg)
600
600
Magnesium (mg)
300
270
Besi (mg)
13
12
Iodium (mcg)
150
150
Seng (mg)
13,4
9,8
Selenium (mcg)
30
30
Mangan (mg)
2,3
1,8
Fluor (mg)
3,1
2,7
Sumber: Almatsier, 2003


C.    Kependudukan Lansia di Indonesia
Mengetahui keseimbangan status gizi pada lansia, kini sangat penting adanya. Karena merujuk pada data statistik, bahwa lansia di Indonesia mengalami peningkatan prevalensi menjadi 12,2 %  sampai dengan tahun 2006 (BPS, 2007). WHO (World Health Organization) sendiri memperkirakan bahwasanya mencapai tahun 2020, presentase kependudukan lansia akan mencapai 11,34% yang menduduki peringkat di atas presentase balita (6,9%).

D.    Hubungan antara Faktor Ekonomi dengan Status Gizi Lansia
Peningkatan kuantitas lansia, utamanya di Indonesia, tidak diseimbangi dengan peningkatan kualitas hidupnya. Kualitas hidup sendiri merupakan sebuah persepsi oleh individu mengenai kebahagiaannya. Kualitas ini dapat dilihat, salah satunya dari kesehatan fisik dan faktor ekonomi.
Tidak sedikit pula lansia yang hidup dalam kekurangan, padahal dimana lansia memiliki faktor lebih besar untuk mengidap malnutrisi daripada yang masih muda. Hal ini ditunjang oleh pernyataan Tamher (2009) yang menyebutkan apabila seseorang sudah mencapai usia lansia, maka prevalensi malnutrisi padanya meningkat sebesar 10-50%.
Oleh karena itu, perlu adanya untuk menyesuaikan antara presentase kuantitas lansia dengan kualitas hidupnya. Sehingga output yang diberikan adalah tidak hanya dalam bentuk seberapa lama lansia tersebut hidup, tetapi bagaimana lansia dapat memiliki kualitas hidup yang baik. Kualitas hidup yang baik dapat dibuktikan, salah satunya adalah dengan melihat kondisi lansia tersebut mengidap malnutrisi atau tidak. Tamher (2009) menambahkan, bahwasanya malnutrisi dapat terjadi karena banyak faktor, antara lain faktor fisik, sosial, dan ekonomi. Dari penjelasan Tamher ini, dapat diambil kesimpulan awal bahwasanya faktor ekonomi memiliki andil dalam penyebaran malnutrisi.
Ketika seorang lansia memiliki faktor ekonomi dibawah rerata, maka salah satu dampak yang diberikan adalah kurangnya makanan yang cukup. Dilain pihak, Shetty (2004) menyebutkan bahwa apabila seseorang makan dengan cukup, maka akan memberi dampak normal pada berat badan, kesehatan, dan fungsi tubuhnya. Jadi, ketika lansia kekurangan dalam faktor ekonominya, maka akan berakibat kepada keseimbangan status gizinya.

Sesungguhnya, masalah ketidakseimbangan gizi yang terjadi di Indonesia ada 2 jenis, yakni kekurangan gizi dan kelebihan gizi. Salah satu faktor yang menyebabkan seorang lansia mengidap kekurangan gizi adalah karena seorang tersebut kekurangan dalam sektor ekonomi, sehingga tidak dapat membeli kebutuhan primernya, termasuk diantaranya makanan sehari-hari. Tetapi berbeda halnya pada lansia yang mengalami gizi berlebih. Ketika lansia mengalami kelebihan gizi hingga obesitas, cenderung lansia ini memiliki kelebihan dalam sektor ekonomi, tetapi kekurangan dalam hal pengetahuan akan kesehatan pola makan. Sehingga dia tidak dapat memanajemen pola makannya dengan baik dan benar.
Jadi untuk menjaga keseimbangan gizi bagi lansia yang memiliki energi berlebih, maka perlu menerapkan penggalan dalam surat Al-A’raf (7) ayat 31 menyebutkan:

…. وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya adalah “Makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (Q.S. Al- A’raf (7) ayat 31).
Selain menerapkan surat Al-A’raf ayat 31, perlu juga menerapkan penggalan ayat berikut:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى أَفَلا تَعْقِلُونَ

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka, apakah kamu tidak memahaminya?” (QS. Al Qashash, 28: 60)

Dari beberapa penggalan ayat tersebut, maka tidak akan ada lansia yang mengalami kelebihan gizi.