Showing posts with label share. Show all posts
Showing posts with label share. Show all posts

Sunday, August 23, 2015

Saya Menyebutnya, Cinta :)

pagi itu, ketika menginjakkan kaki di tanah air, ingin rasanya saya berteriak. berteriak dengan lantang bahwa saya bangga berada di negara ini. saya bangga menjadi bongkahan warga di sini, di Indonesia yang senantiasa kurindukan beberapa hari yang lalu.
pagi itu, dengan dijemput keluarga, saya memasuki mobil yang sesak dengan orang-orang terkasih, dan pastinya barang bawaanku yang tak sedikit pula.
setelah meninggalkan tanah air selama kurang lebih 10 hari, kini saya benar-benar merasakan banyak perubahan. yang pastinya, di dalam dada ini, lebih terasa cinta kepada tanah air. ya, rasa cinta itu semakin menjadi-jadi.
***
(1) saya duduk bersama delegasi dari Indonesia lainnya, di tribun yang luar biasa besarnya, saya dapat melihat dengan jelas muka-muka peserta lainnya dari berbagai negara. semua membaur menjadi satu di ruangan yang sangaaatttt besar. gemericik suara dari berbagai bahasa menjadi atmosfer tersendiri bagiku.
entah, walau ini bukan yang pertama, tapi saya selalu merasa getaran yang berbeda setiap kali merasakan atmosfer ini. ya, inilah atmosfer perjuangan. perjuangan tak harus mengacungkan sebuah pedang bukan? inilah caraku untuk membuktikan rasa cintaku dan terimakasihku pada bangsaku, Indonesia.

Tuesday, April 28, 2015

Mengenal Lebih Dekat tentang Hemofilia A

HEMOFILIA A
Oleh: Rima Nur Rahmawati

Setiati (2014) mendefinisikan hemofilia sebagai sebuah kelainan perdarahan yang diakibatkan oleh kurangnya faktor pembekuan darah secara herediter atau diturunkan secara sex linked recessive pada kromosom X. Tetapi faktanya, sekitar 20-30% pasien hemofilia tidak mempunyai riwayat keluarga serupa, sehingga diduga telah terjadi mutasi spontan akibat lingkungan.
Hemofilia sendiri diklasifikasikan menjadi hemofilia A, hemofilia B, dan hemofilia C berdasarkan defisiensi faktor pembekuan darahnya. Hemofilia A merupakan jenis hemofilia yang biasanya disebut juga dengan hemofilia klasik. Jenis hemofilia ini diakibatkan oleh adanya defisiensi atau disfungsi dari faktor pembekuan darah ke VIII (Davey, 2005).

A.    EPIDEMIOLOGI
Angka kejadian hemofilia A adalah 1:5.000 dimana penyakit ini banyak terjadi pada laki-laki (Davey, 2005). Setiati (2014) menambahkan bahwa, hemofilia A memiliki prosentase kejadian lebih besar dibandingkan hemofilia B, yakni mencapai 80-85% dari total kasusnya, dengan 20-30% pasiennya dikarenakan mutasi gen secara spontan.
Di Indonesia sendiri belum ada data pasti mengenai angka kejadian hemofilia ini. Tetapi, saat ini diperkirakan angka kejadian hemofilia mencapai sekitar 20.000 kasus dari 200.000.000 penduduk di Indonesia (Setiati, 2014).

B.     ETIOLOGI
Hemofilia A dapat dikarenakan pewarisan gen. Hal ini disebabkan oleh adanya defek pada salah satu gen yang berhubungan dengan faktor pembekuan darah VIII (Setiati, 2014). Lebih lanjut, gen pembawa ini berlokasi pada kromosom X, dimana laki-laki hanya mempunyai 1 kromosom X dan wanita memiliki 2 kromosom X.
Seorang laki-laki yang mempunyai gen hemofilia pada kromosom X nya akan mempunyai hemofilia, tetapi jika wanita harus mempunyai gen hemofilia pada kedua kromosomnya untuk mempunyai penyakit ini. Tetapi, jika seorang wanita tersebut hanya terpaut hemofilia pada salah satu kromosom X nya, maka dia disebut karier atau pembawa (Setiati, 2014).
Lain pada laki-laki, dalam hal ini Hayes (1997) menjelaskan bahwa seorang pasien hemofilia A wanita yang merupakan karier memiliki tanda khas berupa defisiensi salah satu sub unit pada faktor VIII C dengan kadar faktor VIII RAG dan faktor VIII RiCoF normal. Seorang wanita karier walaupun tidak mempunyai hemofilia, dia tetap bias mewariskan gen cacatnya pada anak-anaknya.

C.    GEJALA DAN TANDA KLINIS
Perdarahan merupakan gejala dan tanda klinis paling khas yang ditemui pada penderita hemofilia keseluruhan (Setiati, 2014). Perdarahan yang timbul ini dapat terjadi secara spontan ataupun akibat dari trauma keseharian.
Manifestasi klinis yang terjadi dipengaruhi oleh berat ringannya hemofilia yang diderita oleh pasien. Davey (2005) menerangkan bahwa pada penyakit hemofilia A yang berat (faktor VIII < 1%) akan terjadi perdarahan spontan pada sendi dan otot besarnya. Sedangkan pada penyakit hemofilia yang sedang (faktor VIII 1-5%) dan ringan (faktor VIII > 5-50%) akan berkaitan dengan perdarahan pada trauma yang ringan atau sedang.
Gambaran klinis pada pasien hemofilia A dapat ditunjukkan dengan luka memar yang berlebihan dan hemarthrosis sejak saat bayi dapat merangkak. Nyeri, bengkak, panas, dan bahkan deformitas dapat terjadi pada sendi yang terkena. Selain itu, perdarahan otot, perdarahan intra abdominal retroperitoneal, dan perdarahan intracranial juga sering terjadi (Hayes, 1997). Perdarahan retroperitoneal serta retropharyngeal merupakan kejadian yang membahayakan. Hal ini dikarenakan akan dapat menyebabkan gangguan jalan nafas, yang kemudian akan mengancam nyawa penderita hemofilia.
Setiati (2014) menambahkan bahwa hemarthrosis merupakan kejadian yang paling sering ditemukan, yakni angka kejadiannya sebesar 85% dengan lokasi yang menyebar, baik di sendi lutut, siku, pergelangan kaki, bahu, pergelangan tangan, dan lainnya. Selain itu, Hoyer (1994) juga menjelaskan bahwa perdarahan intracranial yang terjadi pada pasien hemofilia ini merupakan penyebab kematian tertinggi, karena sifatnya yang spontan atau terjadi seketika setelah mengalami trauma.

D.    KOMPLIKASI
Setiati (2014) menjelaskan bahwa komplikasi yang sering terjadi pada penderita adalah artropati hemofilia. Artropati hemofilia merupakan suatu penimbunan darah intraartikular yang menetap dengan akibat dari degenerasi kartilago, tulang, dan sendi secara progresif. Hal ini menyebabkan penurunan hingga rusaknya fungsi dari sendi.
Selain itu, hemarthrosis yang tidak ditindaklanjuti akan dapat menyebabkan sinovitis kronik akibat dari proses peradangan jaringan synovial yang tidak kunjung berhenti (Setiati, 2014). Kejadian seperti ini sering ditemukan pada sendi lutut, pergelangan kaki, dan siku.

E.     PENULARAN
Hayes (1997) menjelaskan bahwa penularan hemofilia A dapat terjadi melalui produk darah. Contoh kejadiannya adalah pada penyakit hepatitis B, hepatitis C, serta infeksi HIV yang melakukan transfusi produk darah, akan mempunyai risiko tertular dari penyakit hemofilia A. Setiati (2014) menambahkan bahwa penularan penyakit hemofilia A melalui produk darah ini cukup tinggi terjadi di Negara berkembang, termasuk Indonesia.

F.     PENCEGAHAN
Oleh karena hemofilia A merupakan penyakit karena gen, maka yang dapat dicegah adalah hal-hal yang berkaitan dengan komplikasi. Agar mengurangi risiko terjadinya komplikasi pada penderita hemofilia A, maka hal yang perlu dilakukan menurut Setiati (2014) adalah:
1.      Mengikuti rencana terapi dengan tepat seperti yang diresepkan dokter seutuhnya tanpa terkecuali.
2.      Memeriksakan secara rutin dan memberikan vaksinasi seperti yang direkomendasikan dokter.
3.      Memberitahukan pada semua penyedia layanan kesehatan tentang kondisi anda.
4.      Melakukan perawatan gigi secara teratur. Dokter gigi dapat memberikan obat yang akan menurunkan perdarahan selama tindakan prosedural.
5.      Mengenali tanda dan gejala perdarahan di sendi dan bagian lain di tubuh anda. Dan mengetahui kapan harus segera menelepon dokter atau ke rumah sakit, contohnya adalah:
a.       Perdarahan berat yang tidak dapat dihentikan
b.      Setiap tanda atau gejala perdarahan di otak.
c.       Gerakan yang berbatas, nyeri, atau pembengkakan di sendi manapun.



Wednesday, April 8, 2015

BUKAN AKU YANG MENGAJARI MEREKA

BUKAN AKU YANG MENGAJARI MEREKA
Oleh: Rima Nur Rahmawati

Namaku Mira, seorang mahasiswi kedokteran di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Sore itu, dengan dress merah jambuku, aku berjalan di lorong fakultas sembari membawa map merah berisikan biodata, lembar formulir, dan foto berukuran 3x4. Kakiku seakan lemas, tak kuasa melanjutkan perjalanan yang sebenarnya tak jauh juga. Entah, ada perasaan takut di dalam hati ini. Perasaan cemas, ragu, dan segala hal yang berbau negative thinking.
Hari ini, aku yang bukan siapa-siapa, disuruh melamar menjadi seorang mentor oleh seorang dokter yang menjadi dosen pengampu kuliahku. Lidahku kelu saat ingin mengatakan, “saya tak sanggup dok, saya tak cukup memiliki ilmu untuk menjadi mentor”, pita suaraku pun ikut mengencang saat ingin berkata, “jangankan untuk berbagi ilmu agama dengan menjadi mentor, saya saja malas-malasan ikutan mentoring. Seandainya mentoring ini tidak bersifat wajib, mungkin saya tidak mengikutinya.”
Lalu, hei, ketika semua kata-kata itu melayang dalam angan, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang. “Jangan ragu, masuklah ke dalam. Kalau memang kamu belum pantas menjadi salah satu mentor di fakultas ini, ya kamu tidak akan lolos seleksi bukan? Yang daftar banyak, jangan kepedean bakal lolos.” Sambil tertawa, salah satu dosen muda itu meninggalkanku yang berdiri terpaku di balik pintu masuk. Kata-katanya sedikit, sedikit menyakitkan hatiku kala itu.
Bismillah, aku mengetuk pintu itu sembari berucap salam. Kata ustadzku dulu, tak afdhol jika masuk ruang tak mengucap salam. Sedetik, dua detik, tiga detik, empat detik, aku hanya berdiri di depan meja registrasi. Seolah ragu akan menyodorkan berkas-berkas dalam map tersebut. “jadi submit tidak dek?” pertanyaan ibu-ibu petugas itu sontak memecah diamku. Spontan, tanganku yang kaku langsung menyodorkan berkas itu ke petugasnya. Sambil tersenyum, aku berbalik badan dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Singkat cerita, aku lolos seleksi administrasi dan lanjut dalam tes wawancara dan tes lisan. Tak ada persiapan apapun untuk menyongsong tes kali ini. Sungguh hina sekali bukan? Naluri dan akalku semalaman telah beradu, perang, pecah, tak sanggup untuk berkata ya atau tidak. Ketika naluriku tahu bahwa kewajiban setiap muslim adalah berdakwah, walau hanya satu ayat, dengan cara bagaimanapun. Seketika itu akalku tak kuasa berkata bahwa aku hanya seonggok debu yang tak lebih baik dari mereka, para pendaftar mentor lainnya.
Hari berganti hari, pengumuman mentor yang lolos sudah dipampang di papan pengumuman. Bagai petir di siang bolong, aku melihat namaku jelas di jajaran nama mentor lainnya. “Apa iniii???” Naluri dan akalku kembali bergejolak. Perasaan sebagai butiran debu tak bernilai semakin menjadi, lebih parah bahkan. Bagaimana tidak, mereka yang duduk dalam nama mentor itu minimal telah hafal 1,5 juz, lebih bahkan. Lalu bagaimana dengan aku? Ya, aku tetaplah seonggok debu tak ternilai.
Senin, selasa, rabu, pergantian hari membuat tekad ku untuk resign dari mentor semakin bulat, kokoh, dan tak tertandingi. Walaupun sang naluri berkata, “jangaaannn lakukan itu”.Bukankah hidup adalah pilihan? Pilihlah apa yang membuat hatimu senang.” begitu sang akal mengelaknya.
Cobalah dulu, jangan mundur sebelum kamu mencoba. Apakah mental dari sang juara dunia seperti ini? Penakut? Takut hanya karena merasa tak pantas? Allah telah memilihmu, maka lakukanlah sebisamu. Bukankah wajib hukumnya bagi setiap orang muslim untuk berdakwah? Lakukan semaksimal mungkin seperti saat kamu mengejar duniamu yang kamu suka. Saya yakin, banyak kelebihan yang kamu miliki dan tidak dimiliki orang lain, termasuk para mentor lainnya disini. Saya percaya, kamu bukanlah seonggok debu tak ternilai. Saya percaya, kamu adalah mutiara yang sangat mahal. Mutiara yang masih dalam mulut kerang, belum terlihat. Sekaranglah, waktunya kita, para pencari mutiara dalam kerang itu beraksi mencari sang mutiara, seperti kamu. Jadi saya mohon, kamu membantu saya dengan segenap keikhlasan.”
Kata-kata dosen itu membuatku terdiam, tertegun cukup lama bahkan. Hingga kata-kata itu masuk ke dalam liang telinga, menembus akal yang sebelumnya menolak. Dan akhirnya kini, sang naluri lah yang menang.
*****
Sore ini, aku duduk bersama mereka, adik mentor yang sangat super rupanya. Mungkin ada perasaan minder dalam hati. Tapi hei, ingatlah bahwa setiap orang punya kelebihan masing-masing bukan? Dan aku yakin, aku masih punya satu sisi yang dapat ku bagi kepada mereka, dan tentunya yang mereka belum punya dan ketahui.
Hari demi hari aku merasakan perbedaan setelah berbagi ilmu bersama mereka. Bukan karena aku merasa seolah-olah menjadi seorang pengajar, bukan. Tapi aku sangat merasa bersyukur karena telah terjebak dalam lingkup ini. Lingkungan yang baik ini, yang insyaAllah di barokahi oleh Sang Pemilik kehidupan. aku banyak belajar mengenai Islam dari mereka, banyak belajar mengenai arti kehidupan dari mereka, walaupun mungkin mereka sendiri tak menyadarinya. Dan betapa senangnya hati ini ketika bersama mereka, hati terasa tenang, damai, dan sejuk. Sangat indah, tak pernah kurasakan sebelumnya. Bukan karena apa-apa, tapi karena kita memiliki tujuan yang sama. Mentoring untuk belajar agar semakin dekat kepada Sang Pencipta. Mungkin ini yang dinamakan tersesat dalam jalan yang benar :)

“Bukan aku yang mengajari mereka, tapi justru dengan mengajar adik-adik itu, aku lah yang dapat belajar akan banyak hal. Kehidupan sangat indah jika saling berbagi, bukan?” :)

Thursday, May 22, 2014

“MEMBIASAKAN POLA MAKAN SECUKUPNYA ALA RASULULLAH”, LANGKAH AWAL PENCEGAHAN PNEUMONIA.

“MEMBIASAKAN POLA MAKAN SECUKUPNYA ALA RASULULLAH”,
LANGKAH AWAL PENCEGAHAN PNEUMONIA.
Oleh:
Rima Nur Rahmawati 
Fakultas Kedokteran Univeritas Islam Indonesia

Pneumonia biasa disebut dengan nama radang paru-paru. Penyakit ini bisa menyerang seseorang tanpa batasan umur tertentu. Pneumonia secara umum didefinisikan sebagai penyakit batuk, pilek, disertai sesak napas atau napas yang cepat.1 Selebihnya, pneumonia merupakan infeksi di jaringan paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur yang sifatnya mikroorganisme.1,2 Pneumonia sendiri termasuk penyakit infeksi dan penyakit menular.1 Yang dimaksud menular dalam

Saturday, November 16, 2013

Sharing Kuliah di FK part 1

bismillah...

assalamualaikum teman2 semua, apa kabarnya nih? :)
maaf ya uda lama ndak nge posting something fresh di blog mungilku ini.. hehe
kali ini saya mau sedikit share nih ke teman2 semua, khususnya yang ingin atau memiliki hasrat untuk kuliah di FK (Fakultas Kedokteran) jurusan pendidikan dokter umum.
dimulai dari pemikiran umum masyarakat aja ya :)
edisi kali ini membahas tentang karakteristik mahasiswa Fk mulai dari yang baik, biasa, dan nyebelin :s
pertama, kebanyakan masyarakat berpikiran bahwa mahasiswa FK itu pasti pintar dan rajin. ini nih, yang saya mau 'bongkar' sedikit.. hehehe.. 
sebenarnya menurut saya sih, ndak semua mahasiswa FK itu pinter loh :p
berikut karakteristik mahasiswa FK menurut yang saya amati:
  1. Mahasiswa FK yang dasarnya cerdas. jadi dia emang dari sononya cerdas. mau belajarnya jarang-jarangpun dia tetap bisa ngikuti pelajaran dengan mulus tanpa hambatan. enaknya yang ada disini :p tapi hati-hati juga terkalahkan sama si rajin ya ;) jadi walau diberi kecerdasan, mohon untuk tetap belajar :)
  2. Mahasiswa FK yang rajin (study only). sebenarnya dia 'kurang' diberi kecerdasan dari sononya. tapi, karena dia rajin, dia jadi bisa ngikuti kuliah FK yang ndak gampang itu :s biasanya mahasiswa model begini bawaannya buku setebal bantal dan tempat nongkrongnya itu di perpus. dan biasanya mahasiswa seperti ini prinsipnya adalah "bagaimana cara agar bisa lulus cumlaude" :D. tapi tak jarang pula mahasiswa model ini lebih bersifat apatis dengan prinsipnya kupu-kupu alias kuliah-pulang kuliah-pulang (biasanya).
  3. Mahasiswa FK yang serba duit. ini nih yang terlihat paling mencolok. dia yang sebenarnya 'kurang' diberi kecerdasan dan 'kurang' berhasrat untuk menutupi kekurangan kecerdasannya itu dengan belajar yang rajin. prinsipnya, dia yang penting kuliah dan bisa lulus jadi dokter. ada juga nih yang mahasiswa FK model beginian.. dengan gayanya yang aduhai membikin mahasiswa lain ternganga dengan prinsip kunang-kunang alias kuliah-nangkring kuliah-nangkring karena bingung ngabisin duit kali yak :/ tapi ndak jarang pula ia menyuruh temannya yang 'cukup' pintar dan 'agak' butuh uang untuk mengerjakan tugasnya, lalu dikasih deh imbalan duit.. hmmm
  4. Mahasiswa FK aktivis. ini mahasiswa FK yang ndak bisa diem. organisasi dari model A sampai Z diikuti semua. sampai2 bingung membagi antara jam organisasi dan belajar. mungkin keinginannya biar bisa jadi dokter yang punya jiwa leadership yang bagus. akhirnya si Mahasiswa model ini dapet gelar kura-kura alias kuliah-rapat kuliah-rapat. tapi ya ndak sedikit juga sih yang aktivisnya keblablasan akhirnya langganan remidi dan ujian perbaikan.. hehehe.. ya semoga bisa ngatur waktu lebih baik lagi :D
  5. Mahasiswa FK idaman. ini menurut saya mahasiswa FK yang paling pantes diikuti. Mahasiswa yang diberi kecerdasan, dan selalu mengasahnya dengan belajar (study oriented). tapi walau begitu, dia tetap bisa mengikuti organisasi yang diinginkan untuk menyalurkan bakatnya. mahasiswa tipe ini memang paling bisa ngatur waktunya. paling pintar mencuri waktu yang sedikit di tengah-tengah istirahatnya untuk belajar dan walaupun mahasiswa tipe ini jarang ada di kosan.. wkwk :D
edisi kali ini cukup sampai disini dulu ya teman-teman :) next time dilanjut lagi :) bye :)
wassalamualaikum...