Wednesday, April 29, 2015

Keseimbangan Status Gizi Lansia

KESEIMBANGAN STATUS GIZI LANSIA
DITINJAU DARI FAKTOR EKONOMI

A.    Definisi Status Gizi
Almatsier (2003) menjelaskan bahwa status gizi merupakan keadaan tubuh dimana ia merupakan hasil akibat dari penggunaan zat gizi, diantaranya makanan. Status gizi ini dapat diklasifikasikan menjadi 3 golongan, yakni gizi kurang, sedang, dan berlebih.

B.     Keseimbangan Status Gizi Lansia
Menjaga keseimbangan status gizi bagi setiap orang itu sangat penting, termasuk seorang lansia. Makanan yang akan dikonsumsi pun juga sebelumnya harus dipilah terlebih dahulu yang terbaik. Karena asupan makanan inilah yang akan memberikan suplai gizi yang dibutuhkan untuk 3 fungsi normal tubuh, yaitu memberikan energi, pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh, serta untuk mengatur proses tubuh (Almatsier, 2003).

Tabel 1. Zat-zat Gizi Esensial yang Dibutuhkan oleh Tubuh



Karbohidrat
Mineral
Vitamin
Glukosa
Kalsium
A
Serat
Fosfor
D
Natrium
E
Kalium
K
Lemak
Sulfur
Tiamin
Omega 6
Klor
Riboflavin
Omega 3
Magnesium
Niasin
Zat Besi
Biotin
Selenium
Folat
Protein
Seng
Piridoksin
Leusin
Mangan
Kobalamin
Isoleusin
Tembaga
Asam Pentotenat
Lisin
Kobalt
C
Triptofan
Iodium
Metionin
Krom
Fenilalanin
Fluor
Treonin
Timah
Air
Valin
Nikel
Histidin
Silikon, arsen, boron
Nitrogen Non Esensial
Vanadium, molibden

Sumber: Almatsier, 2003

Natrium merupakan salah satu jenis mineral yang dibutuhkan lansia pada jumlah yang sedikit. Tetapi walaupun sedikit, natrium merupakan komponen untuk dapat menyeimbangkan fungsi tubuh lansia dengan baik (Nutr, 2003).
Untuk mencapai keseimbangan status gizi, maka seorang lansia Indonesia harus memenuhi angka kecukupan gizi sebagai berikut:

Tabel 2. Angka Kecukupan Gizi pada Lansia >65 tahun
Kategori
Pria
Wanita
Berat Badan (kg)
62
55
Tinggi Badan (cm)
165
156
Energi (kkal)
2050
1600
Protein (g)
60
50
Vit. A (RE)
600
500
Vit. D (mcg)
15
15
Vit. E (mg)
15
15
Vit. K (mcg)
65
55
Tiamin (mg)
1
1
Riboflavin (mg)
1,3
1,1
Niasin (mg)
16
14
Asam Folat (mcg)
400
400
Piridoksin (mg)
1,3
1,7
Vit. B12 (mcg)
2,4
2,4
Vit. C (mg)
90
75
Kalsium (mg)
1000
1000
Fosfor (mg)
600
600
Magnesium (mg)
300
270
Besi (mg)
13
12
Iodium (mcg)
150
150
Seng (mg)
13,4
9,8
Selenium (mcg)
30
30
Mangan (mg)
2,3
1,8
Fluor (mg)
3,1
2,7
Sumber: Almatsier, 2003


C.    Kependudukan Lansia di Indonesia
Mengetahui keseimbangan status gizi pada lansia, kini sangat penting adanya. Karena merujuk pada data statistik, bahwa lansia di Indonesia mengalami peningkatan prevalensi menjadi 12,2 %  sampai dengan tahun 2006 (BPS, 2007). WHO (World Health Organization) sendiri memperkirakan bahwasanya mencapai tahun 2020, presentase kependudukan lansia akan mencapai 11,34% yang menduduki peringkat di atas presentase balita (6,9%).

D.    Hubungan antara Faktor Ekonomi dengan Status Gizi Lansia
Peningkatan kuantitas lansia, utamanya di Indonesia, tidak diseimbangi dengan peningkatan kualitas hidupnya. Kualitas hidup sendiri merupakan sebuah persepsi oleh individu mengenai kebahagiaannya. Kualitas ini dapat dilihat, salah satunya dari kesehatan fisik dan faktor ekonomi.
Tidak sedikit pula lansia yang hidup dalam kekurangan, padahal dimana lansia memiliki faktor lebih besar untuk mengidap malnutrisi daripada yang masih muda. Hal ini ditunjang oleh pernyataan Tamher (2009) yang menyebutkan apabila seseorang sudah mencapai usia lansia, maka prevalensi malnutrisi padanya meningkat sebesar 10-50%.
Oleh karena itu, perlu adanya untuk menyesuaikan antara presentase kuantitas lansia dengan kualitas hidupnya. Sehingga output yang diberikan adalah tidak hanya dalam bentuk seberapa lama lansia tersebut hidup, tetapi bagaimana lansia dapat memiliki kualitas hidup yang baik. Kualitas hidup yang baik dapat dibuktikan, salah satunya adalah dengan melihat kondisi lansia tersebut mengidap malnutrisi atau tidak. Tamher (2009) menambahkan, bahwasanya malnutrisi dapat terjadi karena banyak faktor, antara lain faktor fisik, sosial, dan ekonomi. Dari penjelasan Tamher ini, dapat diambil kesimpulan awal bahwasanya faktor ekonomi memiliki andil dalam penyebaran malnutrisi.
Ketika seorang lansia memiliki faktor ekonomi dibawah rerata, maka salah satu dampak yang diberikan adalah kurangnya makanan yang cukup. Dilain pihak, Shetty (2004) menyebutkan bahwa apabila seseorang makan dengan cukup, maka akan memberi dampak normal pada berat badan, kesehatan, dan fungsi tubuhnya. Jadi, ketika lansia kekurangan dalam faktor ekonominya, maka akan berakibat kepada keseimbangan status gizinya.

Sesungguhnya, masalah ketidakseimbangan gizi yang terjadi di Indonesia ada 2 jenis, yakni kekurangan gizi dan kelebihan gizi. Salah satu faktor yang menyebabkan seorang lansia mengidap kekurangan gizi adalah karena seorang tersebut kekurangan dalam sektor ekonomi, sehingga tidak dapat membeli kebutuhan primernya, termasuk diantaranya makanan sehari-hari. Tetapi berbeda halnya pada lansia yang mengalami gizi berlebih. Ketika lansia mengalami kelebihan gizi hingga obesitas, cenderung lansia ini memiliki kelebihan dalam sektor ekonomi, tetapi kekurangan dalam hal pengetahuan akan kesehatan pola makan. Sehingga dia tidak dapat memanajemen pola makannya dengan baik dan benar.
Jadi untuk menjaga keseimbangan gizi bagi lansia yang memiliki energi berlebih, maka perlu menerapkan penggalan dalam surat Al-A’raf (7) ayat 31 menyebutkan:

…. وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya adalah “Makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (Q.S. Al- A’raf (7) ayat 31).
Selain menerapkan surat Al-A’raf ayat 31, perlu juga menerapkan penggalan ayat berikut:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى أَفَلا تَعْقِلُونَ

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka, apakah kamu tidak memahaminya?” (QS. Al Qashash, 28: 60)

Dari beberapa penggalan ayat tersebut, maka tidak akan ada lansia yang mengalami kelebihan gizi.

Tuesday, April 28, 2015

Mengenal Lebih Dekat tentang Hemofilia A

HEMOFILIA A
Oleh: Rima Nur Rahmawati

Setiati (2014) mendefinisikan hemofilia sebagai sebuah kelainan perdarahan yang diakibatkan oleh kurangnya faktor pembekuan darah secara herediter atau diturunkan secara sex linked recessive pada kromosom X. Tetapi faktanya, sekitar 20-30% pasien hemofilia tidak mempunyai riwayat keluarga serupa, sehingga diduga telah terjadi mutasi spontan akibat lingkungan.
Hemofilia sendiri diklasifikasikan menjadi hemofilia A, hemofilia B, dan hemofilia C berdasarkan defisiensi faktor pembekuan darahnya. Hemofilia A merupakan jenis hemofilia yang biasanya disebut juga dengan hemofilia klasik. Jenis hemofilia ini diakibatkan oleh adanya defisiensi atau disfungsi dari faktor pembekuan darah ke VIII (Davey, 2005).

A.    EPIDEMIOLOGI
Angka kejadian hemofilia A adalah 1:5.000 dimana penyakit ini banyak terjadi pada laki-laki (Davey, 2005). Setiati (2014) menambahkan bahwa, hemofilia A memiliki prosentase kejadian lebih besar dibandingkan hemofilia B, yakni mencapai 80-85% dari total kasusnya, dengan 20-30% pasiennya dikarenakan mutasi gen secara spontan.
Di Indonesia sendiri belum ada data pasti mengenai angka kejadian hemofilia ini. Tetapi, saat ini diperkirakan angka kejadian hemofilia mencapai sekitar 20.000 kasus dari 200.000.000 penduduk di Indonesia (Setiati, 2014).

B.     ETIOLOGI
Hemofilia A dapat dikarenakan pewarisan gen. Hal ini disebabkan oleh adanya defek pada salah satu gen yang berhubungan dengan faktor pembekuan darah VIII (Setiati, 2014). Lebih lanjut, gen pembawa ini berlokasi pada kromosom X, dimana laki-laki hanya mempunyai 1 kromosom X dan wanita memiliki 2 kromosom X.
Seorang laki-laki yang mempunyai gen hemofilia pada kromosom X nya akan mempunyai hemofilia, tetapi jika wanita harus mempunyai gen hemofilia pada kedua kromosomnya untuk mempunyai penyakit ini. Tetapi, jika seorang wanita tersebut hanya terpaut hemofilia pada salah satu kromosom X nya, maka dia disebut karier atau pembawa (Setiati, 2014).
Lain pada laki-laki, dalam hal ini Hayes (1997) menjelaskan bahwa seorang pasien hemofilia A wanita yang merupakan karier memiliki tanda khas berupa defisiensi salah satu sub unit pada faktor VIII C dengan kadar faktor VIII RAG dan faktor VIII RiCoF normal. Seorang wanita karier walaupun tidak mempunyai hemofilia, dia tetap bias mewariskan gen cacatnya pada anak-anaknya.

C.    GEJALA DAN TANDA KLINIS
Perdarahan merupakan gejala dan tanda klinis paling khas yang ditemui pada penderita hemofilia keseluruhan (Setiati, 2014). Perdarahan yang timbul ini dapat terjadi secara spontan ataupun akibat dari trauma keseharian.
Manifestasi klinis yang terjadi dipengaruhi oleh berat ringannya hemofilia yang diderita oleh pasien. Davey (2005) menerangkan bahwa pada penyakit hemofilia A yang berat (faktor VIII < 1%) akan terjadi perdarahan spontan pada sendi dan otot besarnya. Sedangkan pada penyakit hemofilia yang sedang (faktor VIII 1-5%) dan ringan (faktor VIII > 5-50%) akan berkaitan dengan perdarahan pada trauma yang ringan atau sedang.
Gambaran klinis pada pasien hemofilia A dapat ditunjukkan dengan luka memar yang berlebihan dan hemarthrosis sejak saat bayi dapat merangkak. Nyeri, bengkak, panas, dan bahkan deformitas dapat terjadi pada sendi yang terkena. Selain itu, perdarahan otot, perdarahan intra abdominal retroperitoneal, dan perdarahan intracranial juga sering terjadi (Hayes, 1997). Perdarahan retroperitoneal serta retropharyngeal merupakan kejadian yang membahayakan. Hal ini dikarenakan akan dapat menyebabkan gangguan jalan nafas, yang kemudian akan mengancam nyawa penderita hemofilia.
Setiati (2014) menambahkan bahwa hemarthrosis merupakan kejadian yang paling sering ditemukan, yakni angka kejadiannya sebesar 85% dengan lokasi yang menyebar, baik di sendi lutut, siku, pergelangan kaki, bahu, pergelangan tangan, dan lainnya. Selain itu, Hoyer (1994) juga menjelaskan bahwa perdarahan intracranial yang terjadi pada pasien hemofilia ini merupakan penyebab kematian tertinggi, karena sifatnya yang spontan atau terjadi seketika setelah mengalami trauma.

D.    KOMPLIKASI
Setiati (2014) menjelaskan bahwa komplikasi yang sering terjadi pada penderita adalah artropati hemofilia. Artropati hemofilia merupakan suatu penimbunan darah intraartikular yang menetap dengan akibat dari degenerasi kartilago, tulang, dan sendi secara progresif. Hal ini menyebabkan penurunan hingga rusaknya fungsi dari sendi.
Selain itu, hemarthrosis yang tidak ditindaklanjuti akan dapat menyebabkan sinovitis kronik akibat dari proses peradangan jaringan synovial yang tidak kunjung berhenti (Setiati, 2014). Kejadian seperti ini sering ditemukan pada sendi lutut, pergelangan kaki, dan siku.

E.     PENULARAN
Hayes (1997) menjelaskan bahwa penularan hemofilia A dapat terjadi melalui produk darah. Contoh kejadiannya adalah pada penyakit hepatitis B, hepatitis C, serta infeksi HIV yang melakukan transfusi produk darah, akan mempunyai risiko tertular dari penyakit hemofilia A. Setiati (2014) menambahkan bahwa penularan penyakit hemofilia A melalui produk darah ini cukup tinggi terjadi di Negara berkembang, termasuk Indonesia.

F.     PENCEGAHAN
Oleh karena hemofilia A merupakan penyakit karena gen, maka yang dapat dicegah adalah hal-hal yang berkaitan dengan komplikasi. Agar mengurangi risiko terjadinya komplikasi pada penderita hemofilia A, maka hal yang perlu dilakukan menurut Setiati (2014) adalah:
1.      Mengikuti rencana terapi dengan tepat seperti yang diresepkan dokter seutuhnya tanpa terkecuali.
2.      Memeriksakan secara rutin dan memberikan vaksinasi seperti yang direkomendasikan dokter.
3.      Memberitahukan pada semua penyedia layanan kesehatan tentang kondisi anda.
4.      Melakukan perawatan gigi secara teratur. Dokter gigi dapat memberikan obat yang akan menurunkan perdarahan selama tindakan prosedural.
5.      Mengenali tanda dan gejala perdarahan di sendi dan bagian lain di tubuh anda. Dan mengetahui kapan harus segera menelepon dokter atau ke rumah sakit, contohnya adalah:
a.       Perdarahan berat yang tidak dapat dihentikan
b.      Setiap tanda atau gejala perdarahan di otak.
c.       Gerakan yang berbatas, nyeri, atau pembengkakan di sendi manapun.



Wednesday, April 8, 2015

BUKAN AKU YANG MENGAJARI MEREKA

BUKAN AKU YANG MENGAJARI MEREKA
Oleh: Rima Nur Rahmawati

Namaku Mira, seorang mahasiswi kedokteran di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Sore itu, dengan dress merah jambuku, aku berjalan di lorong fakultas sembari membawa map merah berisikan biodata, lembar formulir, dan foto berukuran 3x4. Kakiku seakan lemas, tak kuasa melanjutkan perjalanan yang sebenarnya tak jauh juga. Entah, ada perasaan takut di dalam hati ini. Perasaan cemas, ragu, dan segala hal yang berbau negative thinking.
Hari ini, aku yang bukan siapa-siapa, disuruh melamar menjadi seorang mentor oleh seorang dokter yang menjadi dosen pengampu kuliahku. Lidahku kelu saat ingin mengatakan, “saya tak sanggup dok, saya tak cukup memiliki ilmu untuk menjadi mentor”, pita suaraku pun ikut mengencang saat ingin berkata, “jangankan untuk berbagi ilmu agama dengan menjadi mentor, saya saja malas-malasan ikutan mentoring. Seandainya mentoring ini tidak bersifat wajib, mungkin saya tidak mengikutinya.”
Lalu, hei, ketika semua kata-kata itu melayang dalam angan, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang. “Jangan ragu, masuklah ke dalam. Kalau memang kamu belum pantas menjadi salah satu mentor di fakultas ini, ya kamu tidak akan lolos seleksi bukan? Yang daftar banyak, jangan kepedean bakal lolos.” Sambil tertawa, salah satu dosen muda itu meninggalkanku yang berdiri terpaku di balik pintu masuk. Kata-katanya sedikit, sedikit menyakitkan hatiku kala itu.
Bismillah, aku mengetuk pintu itu sembari berucap salam. Kata ustadzku dulu, tak afdhol jika masuk ruang tak mengucap salam. Sedetik, dua detik, tiga detik, empat detik, aku hanya berdiri di depan meja registrasi. Seolah ragu akan menyodorkan berkas-berkas dalam map tersebut. “jadi submit tidak dek?” pertanyaan ibu-ibu petugas itu sontak memecah diamku. Spontan, tanganku yang kaku langsung menyodorkan berkas itu ke petugasnya. Sambil tersenyum, aku berbalik badan dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Singkat cerita, aku lolos seleksi administrasi dan lanjut dalam tes wawancara dan tes lisan. Tak ada persiapan apapun untuk menyongsong tes kali ini. Sungguh hina sekali bukan? Naluri dan akalku semalaman telah beradu, perang, pecah, tak sanggup untuk berkata ya atau tidak. Ketika naluriku tahu bahwa kewajiban setiap muslim adalah berdakwah, walau hanya satu ayat, dengan cara bagaimanapun. Seketika itu akalku tak kuasa berkata bahwa aku hanya seonggok debu yang tak lebih baik dari mereka, para pendaftar mentor lainnya.
Hari berganti hari, pengumuman mentor yang lolos sudah dipampang di papan pengumuman. Bagai petir di siang bolong, aku melihat namaku jelas di jajaran nama mentor lainnya. “Apa iniii???” Naluri dan akalku kembali bergejolak. Perasaan sebagai butiran debu tak bernilai semakin menjadi, lebih parah bahkan. Bagaimana tidak, mereka yang duduk dalam nama mentor itu minimal telah hafal 1,5 juz, lebih bahkan. Lalu bagaimana dengan aku? Ya, aku tetaplah seonggok debu tak ternilai.
Senin, selasa, rabu, pergantian hari membuat tekad ku untuk resign dari mentor semakin bulat, kokoh, dan tak tertandingi. Walaupun sang naluri berkata, “jangaaannn lakukan itu”.Bukankah hidup adalah pilihan? Pilihlah apa yang membuat hatimu senang.” begitu sang akal mengelaknya.
Cobalah dulu, jangan mundur sebelum kamu mencoba. Apakah mental dari sang juara dunia seperti ini? Penakut? Takut hanya karena merasa tak pantas? Allah telah memilihmu, maka lakukanlah sebisamu. Bukankah wajib hukumnya bagi setiap orang muslim untuk berdakwah? Lakukan semaksimal mungkin seperti saat kamu mengejar duniamu yang kamu suka. Saya yakin, banyak kelebihan yang kamu miliki dan tidak dimiliki orang lain, termasuk para mentor lainnya disini. Saya percaya, kamu bukanlah seonggok debu tak ternilai. Saya percaya, kamu adalah mutiara yang sangat mahal. Mutiara yang masih dalam mulut kerang, belum terlihat. Sekaranglah, waktunya kita, para pencari mutiara dalam kerang itu beraksi mencari sang mutiara, seperti kamu. Jadi saya mohon, kamu membantu saya dengan segenap keikhlasan.”
Kata-kata dosen itu membuatku terdiam, tertegun cukup lama bahkan. Hingga kata-kata itu masuk ke dalam liang telinga, menembus akal yang sebelumnya menolak. Dan akhirnya kini, sang naluri lah yang menang.
*****
Sore ini, aku duduk bersama mereka, adik mentor yang sangat super rupanya. Mungkin ada perasaan minder dalam hati. Tapi hei, ingatlah bahwa setiap orang punya kelebihan masing-masing bukan? Dan aku yakin, aku masih punya satu sisi yang dapat ku bagi kepada mereka, dan tentunya yang mereka belum punya dan ketahui.
Hari demi hari aku merasakan perbedaan setelah berbagi ilmu bersama mereka. Bukan karena aku merasa seolah-olah menjadi seorang pengajar, bukan. Tapi aku sangat merasa bersyukur karena telah terjebak dalam lingkup ini. Lingkungan yang baik ini, yang insyaAllah di barokahi oleh Sang Pemilik kehidupan. aku banyak belajar mengenai Islam dari mereka, banyak belajar mengenai arti kehidupan dari mereka, walaupun mungkin mereka sendiri tak menyadarinya. Dan betapa senangnya hati ini ketika bersama mereka, hati terasa tenang, damai, dan sejuk. Sangat indah, tak pernah kurasakan sebelumnya. Bukan karena apa-apa, tapi karena kita memiliki tujuan yang sama. Mentoring untuk belajar agar semakin dekat kepada Sang Pencipta. Mungkin ini yang dinamakan tersesat dalam jalan yang benar :)

“Bukan aku yang mengajari mereka, tapi justru dengan mengajar adik-adik itu, aku lah yang dapat belajar akan banyak hal. Kehidupan sangat indah jika saling berbagi, bukan?” :)

Thursday, May 22, 2014

“MEMBIASAKAN POLA MAKAN SECUKUPNYA ALA RASULULLAH”, LANGKAH AWAL PENCEGAHAN PNEUMONIA.

“MEMBIASAKAN POLA MAKAN SECUKUPNYA ALA RASULULLAH”,
LANGKAH AWAL PENCEGAHAN PNEUMONIA.
Oleh:
Rima Nur Rahmawati 
Fakultas Kedokteran Univeritas Islam Indonesia

Pneumonia biasa disebut dengan nama radang paru-paru. Penyakit ini bisa menyerang seseorang tanpa batasan umur tertentu. Pneumonia secara umum didefinisikan sebagai penyakit batuk, pilek, disertai sesak napas atau napas yang cepat.1 Selebihnya, pneumonia merupakan infeksi di jaringan paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur yang sifatnya mikroorganisme.1,2 Pneumonia sendiri termasuk penyakit infeksi dan penyakit menular.1 Yang dimaksud menular dalam

Sunday, April 13, 2014

sharing Kuliah FK pendidikan dokter part 2

sesemester lebih aku berada di kota yogyakarta ini, rasanya banyak sekali ilmu yang kudapatkan.. bukan hanya tentang ilmu kedokteran saja, tapi more than that..
di kampus biru ini, aku belajar tentang arti kehidupan.. entah secara langsung atau tak langsung, kampus ini mulai membuat hati dan pikiranku benar-benar utuh sekarang.. tentang bagaimana sesungguhnya hidup, hidup tentang memberi arti bagi sesama, bukan sekedar untuk mendapatkan..
ya, mataku kini benar-benar terbuka.. makna hidup dan perjuangan seorang dokter..
kelak, aku akan menjadi seorang dokter.. bisa saja aku memanfaatkan kedudukanku untuk membuat masyarakat patuh, karena sampai detik ini dokter dianggap seorang yang istimewa di kalangan masyarakat. tapi, lihatlah kampus biruku ketika mencoba mencetak dokter yang profesional.. mencetak dokter-dokter yang sesuai syariat agama.. lihatlah daya juang kampus biruku yang tak pernah padam mendidik mahasiswanya agar ilmu kedokterannya digunakan di jalan-Nya yang benar.. ya, aku sangat merasakannya..
banyak hal yang mereka upayakan demi mencapai cita-citanya mencetak five stars doctor muslim..
dan kini aku berani berkata
"jadi dokter itu harus kaya, karena kamu akan menolong orang-orang diluar sana. karena kamu tak cukup hanya menolongnya dengan ilmumu, tapi kamu juga memerlukan alat terapis dan obat-obatan untuk membantu kesembuhannya. jangan setengah2 dalam menolong orang sekelilingmu yang benar-benar membutuhkan bantuan. tapi ingat, jangan jadikan profesimu menjadi sumber kekayaanmu, tapi buatlah pekerjaan lain yang bisa menjadi sumber untuk profesimu dalam membantu sesama"
bismillah, not just a doctor ~ aamiin

-Rima Nur Rahmawati-